Selasa, 21 Desember 2010

Dukungan Sosial Orang Tua


Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam hal.
Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar.
Menimbang bahwa anak dan pemuda merupakan kekuatan yang mempunyai potensi besar bagi pembangunan suatu bangsa dan negara, serta merupakan sumber tenaga kerja yang produktif di masa mendatang. Mereka merupakan modal pembangunan yang harus digarap dengan efektif dan efisien. Namun, kenyataan menunjukkan masih terdapat sejumlah besar anak-anak terlantar yang karena keadaan keterlantarannya tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani, rohani maupun sosialnya sehingga tidak mampu berpartisipasi dalam proses pembangunan. kurang intensif dan kurang merata pengawasan dan bimbingan yang diberikan kepada anak-anak. Prestasi merupakan penilaian terhadap sesuatu yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pengajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, sehingga prestasi belajar menjadi penting karena akan ada gambaran yang jelas tentang tingkat keberhasilan dari kegiatan siswa selama mengikuti pelajaran (Purwanto, 1990). Hampir sama dengan purwanto, Winkel (2005), menyatakan bahwa prestasi belajar sering disebut sebagai hasil dari perbuatan belajar yang melukiskan taraf kemampuan seseorang setelah belajar dan berlatih secara sengaja, sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku ke arah yang lebih maju. Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Irwanto (1997 :105) belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dengan belajar, siswa dapat mewujudkan cita-cita yang diharapkan.
Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar
. Hasil belajar atau prestasi belajar disekolah dilambangkan dengan angka-angka atau huruf. Sejalan dengan itu, Azwar (1996) menyatakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai siswa dalam belajar. Sedangkan Suryabrata (1984) lebih memperjelas dengan memberikan definisi tentang prestasi belajar yaitu hasil ujian yang dilakukan melalui penilaian dengan jalan testing, mengerjakan tugas, menanyakan berbagai hal, membuat karangan, menyuruh memproduksi hal-hal yang telah diterima sebagai pelajaran, dan memberi ulangan yang bertujuan untuk mengetahui kemajuan anak didik. Akan tetapi dalam peraihan prestasi tentunya ada peran serta yang harus mendukung antara lain dukungan sosial dari orang tua. menurut Gottlieb (1983) terdiri dari informasi atau nasehat verbal maupun non verbal yang berupa bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh adanya keakraban atau adanya kehadiran seseorang dan bermanfaat serta mempengaruhi perilaku emosi dari pengaruh negatif serta tekanan hidup. Informasi tersebut dapat diperoleh dari keluarga, teman, pasangan hidup, kekasih dan masyarakat. Sarafino (1990) mendefinisikan dukungan sosial mengacu pada kesenangan yang dirasakan, penghargaan akan kepedulian atau membantu orang menerima dari orang-orang atau kelompok lain.
Gibson, dkk (dalam Putri, 2005) menguraikan dukungan sosial sebagai suatu informasi penting yang diperoleh dari orang lain, sehingga seseorang menjadi percaya bahwa dirinya diperhatikan, dicintai, dihargai, dihormati serta menjadi bagian dari lingkungan, bila seseorang berada dalam kesulitan akan mendapat bantuan dan dukungan dari kelompoknya. Menurut Smet (1994) mengemukakan bahwa dukungan sosial merupakan sebagai suatu kesenangan perhatiam, penghargaan atau pertolongan yang diterima individu lain dan kelompoknya. Ditambahkan pula bahwa informasi tersebut diperoleh dari pola hubungan keluarga, guru, teman sebaya, kelompok atau organisasi. Selain itu juga memerlukan McClelland dan Geen (dalam Feldman, 1992) menyebutkan bahwa di dalam diri manusia selain ada dorongan yang bersifat biologis, terdapat juga dorongan lain yang sangat kuat dan tidak memiliki dasar biologis yaitu kebutuhan untuk mendapatkan prestasi. Kebutuhan untuk mendapatkan prestasi merupakan salah satu  motif ini dipelajari dalam lingkungan dan melibatkan orang lain serta motif ini merupakan suatu komponen penting dalam kepribadian dalam kepribadian yang membuat manusia berbeda satu  sama lain (Morgan,dkk, 1986).
McCleland (dalam Robin, 1996) mengartikan motivasi berprestasi sebagai dorongan untuk mengungguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar dan berusaha untuk mendapatkan kesuksesan atas kegiatan yang dilakukannya. Lebih lanjut MC. Clelland mengemukakan bahwa keinginan untuk berprestasi yang tinggi (Need for achievement) merupakan kebutuhan untuk mencapai sukses. Kebutuhan ini berhubungan erat dengan pekerjaan dan mengarahkan tingkah laku pada usaha untuk mencapai prestasi.   Individu yang mempunyai motivasi. Kiranya hal tersebut mempengaruhi prestasi belajar dan berdampak tertentu pada anak-anak, yang mungkin menyebabkan adanya hubungan dari dukungan sosial orang tua dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara dukungan sosial orang tua, dan motivasi berprestasi terhadap  prestasi belajar.

Mata Buta Sayang Mama

March, 14, 2002
Siang panas ku... duduk di emperan jalan raya termenung sendiri sambil menikmati "suara" mobil dan sepeda motor beterbangan yang tertiup oleh angin segar sedikit berbau asap. Suara sombong terdengar bagai anjing jalanan yang menggonggong karena lapar menyambut dirinya. ingin kupukul kepalaku yang bodoh karena hanya termenung terus kerjanya seperti sapi ompong yang ditinggal gembala. katanya 'mampu'..... mana..? buktikan...!
Jiwaku sih! berkata: "jangan lakukan.." (satu kali), "jangan lakukan.." (dua kali)..., tapi ego yang keras terus menusuk mata berkali-kali sampai buta tidak melihat dan tidak sadar seperti tubuh mati tanpa roh. seperti pedang menusuk tubuhku! aku mati tanpa perasaan sesuatu pun, yang ada hanya ego-ego yang aku punya, yang mendorong aku pada kesombongan diri, kesombongan rohani, kesombongan jiwa, akhirnya.. "matilah aku.."
Tapi satu lagu mengingatkan aku akan siapa yang melahirkan aku, yang adalah seorang pejuang bagi orang-orang yang selalu menyayangi aku seperti monyet melindungi anaknya yang baru lahir. dialah salah satu angan dan impianku sehari-hari. Ingin ku sentuh tangannya dan ku hapus air matanya, ya... engkau ibuku...! yang kusayangi hai kekasih jiwaku.



Minggu, 19 Desember 2010

Archetype Ayah


Ayah adalah suatu peran sosial yang pastinya telah dikenal semua orang. Ayah adalah seorang pria yang akan melakukan hal terbaik demi keluarganya atau dapat dikatakan istri dan anak. Walau menurut pendapat saya, penentuan archetype dari seorang Ayah dapat bermacam-macam tergantung konteksnya, namun secara umum yang saya rasa paling cocok adalah dengan archetype “warrior”.
Secara umum motif utama seorang Ayah dalam bekerja mencari nafkah adalah agar ia dapat menghidupi diri dan keluarganya, menyekolahkan anaknya dan membeli segala kebutuhan hidup keluarga. Peran Ayah sebagai kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab terbesar dari sebuah keluarga untuk memimpin dan menjamin kesejahteraan keluarganya menuntut seorang Ayah untuk selalu bersikap kuat, kompeten, berkemauan dan terkontrol, serta mereka menghindari untuk terlihat lemah, dan rapuh. Tindakan yang dilakukan seorang Ayah yang berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga adalah saat ia bekerja mencari uang, bertemu dengan rekan kerja, melakukan transaksi bisnis dan sebagainya. Sedangkan tindakan seorang Ayah dalam keluarga terlihat saat anaknya yang masih kecil ingin meminta sesuatu, seperti mainan, pergi ke taman bermain, atau bahkan sekedar diantar ke acara paduan suara disekolahnya. Saat anak mulai dewasa dan mulai menentukan sendiri apa yang dilakukannya dan dapat mengemukakan sendiri apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, seorang Ayah dituntut untuk bijaksana dalam menyikapinya. Seorang Ayah juga diharapkan bisa menerima pendapat atau kritik dari anaknya.
Bagi seorang Ayah, instrument yang penting adalah nilai-nilai moral kehidupan yang nantinya akan selalu ditanamkan dalam keluarganya. Dalam hal ini nilai moral dapat berupa petuah dan teladan yang ia berikan bagi anaknya demi mempersiapkan sang anak menyambut kehidupan di masa depan. Ayah sering mengatakan pada anak laki-lakinya kalau “anak laki-laki haruslah kuat dan tidak boleh cengeng, karena nanti akan menjadi pemimpin bagi keluarganya”, Ayah juga mengajarkan pada anaknya bagaimana bersikap dalam berbagai situasi.
Dalam keluarga, hanya ada dua macam tokoh yang selalu berinteraksi dengan Ayah, yaitu Ibu dan Anak. Ibu adalah seorang wanita yang berperan penting dalam merawat anak, seperti menyusui, menyiapkan makanan, menemani anak tidur siang, dan berbagai tindakan yang mengutamakan perhatian dan kasih sayang. Maka menurut sudut pandang tokoh utama, tokoh Ibu sesuai dengan archetype “lover”. Anak adalah tokoh yang membuat seorang pria dewasa menjadi Ayah, seorang anak percaya bahwa Ayah dan Ibu akan melindunginya. Keluguan seorang anak juga mengharuskan adanya perhatian dan kasih sayang dari Ayah dan Ibunya. Oleh karena itu menurut sudut pandang seorang Ayah, archetype “innocent” paling tepat bagi anak. Peran Ayah, Ibu, dan Anak tersebut berada dalam sebuah keluarga yang tinggal di suatu rumah, seperti apapun jenis dan bentuk rumahnya.